PENILIK ADA DAN BISA

Jumat, 08 Februari 2019

SISI LAIN, APRESIASI GTK PAUD DAN DIKMAS

Oleh M. Kasim

Emangnya ada berapa sisi sih?. Heeemmm..
Perlombaan selalu berujung pada satu tujuan : memperoleh yg terbaik, JUARA. Artinya, harus ada pihak yang kalah. Yang juara segunung bangga dan bahagia menumpuk di dada. Yang kalah, mendung kecewa menyelimuti rasa. Selalu begitu adanya.

Kembali ke topik. Apresiasi GTK PAUDDIKMAS (AGP) juga demikian. Seluruh peserta ( termasuk Penilik), semua pasti berjuang keras, untuk memenuhi persyaratan-persyaratan perlombaan, baik yang kelompok maupun perorangan, agar memperoleh hasil yang terbaik.

Berbagai strategi, seperti memahami juknis, berbagi dengan pihak yang berpengalaman ( peraih juara tahun sebelumnya), konsultasi dengan ahli. dan sebagainya. Pendek kata, motivasi untuk memperoleh Juara, menjadikan peserta tak kenal lelah tak kenal waktu.

Benarkah tujuan mengikuti AGP  sesederhana itu? Bahwa hanya ada satu tujuan, memperoleh Juara?. Ada hal yang sering  peserta lupakan, ada konsekuensi dari hasil juara yang diperoleh, yaitu tanggung jawab moral. Ini yang dimaksud judul coretan, sisi lain dari AGP.

TUJUAN AGP

Secara ringkas, dapst dijelaskan AGP adalah upaya pemerintah ( Kemendikbud) memberikan penghargaan kepada GTK PAUDDIKMAS,  yang berprestai., dengan menggelar karya-karya terbaiknya. 

Tujuannya,   untuk meningkatkan profesionalitas dan sportivitas, serta membangun persahabatan dan persatuan peserta AGP se-Indonesia.
Batasan tersebut mengandung beberapa kalimat kunci:

1). AGP adalah upaya pemerintah memberi penghargaan kepada GTK PAUDDIKMAS yang telah secara serius menunjukkan karya terbaiknya. Oleh sebeb itu, sekarang muncul istilah "best practice", karya terbaik.
 Perlombaan ini diasumsikan, sebag ai ajang pergelaran karya-karya dari peserta, berupa kreativitas dan inovasi  yang berasal dari ide atau pemikiran. Syarat utama, yaitu  sudah diimplementasikan atau dipraktekkan dalam  menjalankan tugas fungsi (tusi) kesehariannya.

2). AGP untuk meningkatkan profesionalitas GTK PAUDDIKMAS. Artinya, agar seluruh GTK, agar termotivasi untuk berkreasi dan berinovasi dalam menjalankan tusi, sehingga menjadi lebih profesional.

3). AGP didasari jiwa sportivitas. Artinya, peserta  tidak hanya harus legowo menerima hasil perlombaan saja, tetapi  selalu menjaga nilai-nilai kejujuran, keberanian, dan percaya diri, sehingga apa yang dilakukan benar-benar mewakili dirinya sendiri, bukan orang lain. Singkatnya, karya terbaiknya adalah hasil dari ide , pengalaman dan buatan  sendiri. 

4). AGP sebagai ajang menjalin tali silaturahmi seluruh GTK PAUDDIKMAS  se-Indonesia. Pemerintah memberi fasilitas para peserta untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan, sehingga mengurangi kesenjangan kompetensi GTK dari berbagai wilayah di Indonesia. Muaranya, agar segera tercapai pemerataan  mutu layanan Program PAUDDIKMAS.

TANGGUNG JAWAB MORALITAS

Dengan demikian, maka dari awal peserta AGP sebaiknya  menyadari sepenuhnya bahwa ada dua sisi yg selalu berkaitan.

1) AGP adalah sebagai ajang pembuktian diri, bahwa peserta telah menunjukkan karya terbaik dalam menjalankan tusi.
Langkah ini, juga dapat dijadikan standarisasi kompetensi  diri. Pengakuan karya terbaik dapat dijadikan ukuran setinggi apa tingkat kompetensinya, dalam mengimplentasikan ide dan memaparkannya di hadapan dewan juri. Selain itu juga untuk memperoleh penghargaan hadiah.

2). AGP membawa konsekuensi yaitu tanggung jawab moral. Artinya, bahwa AGP adalah langkah awal dari sebuah proses panjang menuju profesionalitas sebuah profesi. Langkah selanjutnya adalah tuntutan bagaimana  "Sang Juara" dalam menjalankan tusi. Harus disadari menyandang gelar Juara, tidak hanya berhenti pada rasa bangga saja, tetapi tanggung jawab moral menjaga gelar tersebut. Sang Juara dituntut  untuk  membuktikan, bagaimana sikap komitmen memegang teguh sikap profesionalitas melalui kinerjanya sehari-hari. Sang Juara harus mampu menjadi motivator dan mobilisator, bagi rekan-rekan seprofesinya.

Terus beride dan terus berkarya.
Janganlah gelar Sang Juara, tenggelam dalam temaram atau hilang ditiup angin senja...

Sang Juara, harus menjadi pilar-pilar yg kokoh, sebagai penyangga profesi penilik, yg kian seksi dan menggairahkan.

Anda siap? Silahkan ikut Apresiasi GTK PAUDDIKMAS...semoga sukses..

PARENTING: DIALOG IMAJINER

Rekan2 Penilik..berikut dipaparkan..materi Parenting, dg bentuk "dialog imajiner"...dg judul:

ORANG TUA: GURU YANG UTAMA

******************

Assalamualaikum wr wb ....
Selamat pagi Bpk/Ibu ...sekalian....

Sebelumnya.. saya ucapkan terimakasih atas kehadiran bpk/ibu sekalian....krn ini menunjukkan bahwa bpk/ ibu memiliki rasa tanggung jawab atas Pendidikan anak...

Perlu diingat .. pendapat Bpk Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, yg tgl  kelahirannya diperingati dan ditetapkan sbg Hardiknas.
Masih ingat.tanggal brp...??

Ortu/Wali:
2 Mei......!!!

Penilik:
Betuull...tgl 2 Mei,..
Menurut beliau... bhwa Pendidikan berlangsung dlm kerangka konsep Tri Pusat Pendidikan, atau disebut Trilogi Pendidikan, yaitu:
- Keluarga
- Sekolah
- Masyarakat.

Bpk/ibu.. sekalian...hrs.menyadari akan pentingnya peran org tua bagi Pendidikan anaknya.

Bahwa orangtua/keluarga adalah Guru yg Utama... Sblumnya .. coba jwab pertanyaan...:
Dimana yg paling lama anak menghabiskan waktu utk berinteraksi / bergaul... dr tiga pusat pendidikan tsb..??

Ortu/wali:
Keluarga/ortu...!!!

Penilik:
Betul....!!!
Ditinjau dari segi waktu,...anak  paling lama berada di keluarga .. Sementara di sekolah.. anak usia dini sekitar 2 jam.
Di masyarakat/ tetangga tdk lbh lama drpd sekolah..

Di keluarga.. anak paling lama.... Oleh sbb itu ..penelitian terakhir menyimpulkan...
prosentase keterpengaruhan dari tiga pusat pendidikan:
- Keluarga, 60%
- Lembaga/sekolah, 20 %
- Masyarakat, 20 %

Gmn..Bpak/ibu paham..??

Ortu/wali:
( diam membisu)...

Penilik:
Saya yakin ...Bpk/ibu memahami...cuma masih malu2 utk menjawabnya....

Ortu/wali:
(Tersenyum kecut)...

Penilik:
Oke...kita lanjutkan...
Dg demikian dpt disimpulkan...bhwa klg...sbnarnya yg plg besar tgg jawabnya..atas keberhasilan pendidikan..anaknya... krn hampir sebagian besar anak bersama klg.

Nahh...oleh sbb itu..benar kata org: dibalik anak hebat, ada keluarga yg hebat...
Sebaliknya...kesalahan klg dlm mendidik anak, akan berkontribusi besar bg kegagalan pendidikan anak...

Kembali ke prosentase waktu tadi.... Jika prosentase 80 %, tdk maksimal dimanfaatkan oleh klg,... maka...siapa yg memanfaatkan. ..??

Ortu/wali:
Sekolah...!!!

Penilik:
Sekolah terbatas ...

Ortu/wali:
Masyarakat..!!!

Penilik:
Betul.... Kemungkinan besar masyarakatlah yg memanfaatkan waktu anak ...yg disia-siakan oleh klg....

Permasalahannya,..masyarakat itu heterogen.. bermacam-macam... adat..budaya... kebiasaan... Nah yg membahayakan adalah ada oknum/ org jahat yg memanfaatkan waktu luang anak...

Maka..hrs dipahami...dan Bpk/ibu jng melemparkan tgg.jawab...jika terjadi kasus2.. :
- kenakalan remaja, bahkan anak..( anak SMP/SD ..bahkan TK..sdh berani memalak/ menarget tmnnya)
Atau kasus pelecehan seksual/ tindakan asusila..
- Kekerasan/ kejahatan thd anak: penculikan, penganiayaan, kejahatan seksual ( pedopilia).

Ortu/wali:
(tiba2 ada yg angkat tangan...)
Tanya boleehh...??

Penilik:
Alhamdulillah...
silahkan...

Ortu/wali:
Begini...sbnarnya kami paham akan tggjawab kami sbg orngtua.... permasalahannya...kami kan hrs kerjaaaa....trus anak di rmh ..sendiri...bersama pembantu... Trus waktu kami terbatas sekali ketemu anak.....

Penilik:
Itu adlh maslh dihadapi hampir semua orgtua: keterbatasan waktu, krn sibuk kerja.....
Menyikapi hal tsb, yg hrs dingat dan dilakukan org tua:

1). Prinsipnya, peran orgtua tdk tergantikan oleh siapapun. Oleh sbb itu, jika peran tsb dilimpahkan kpd pihak lain, hrs tetap mmpertimbangkan....jng sampai mengurangi keterpenuhan kebutuhan pendidikan anak. Cara mengatasi: Carikan baby sister, atau titipkan anak di Penitipan Anak. Hal ini utk menjamin bahwa anak tetap memperoleh pendidikan dan pengasuhan yg benar.

2).Jika kuantitas kebersamaan dg anak kurang, maka jaga kualitasnya. Artinya, biarpun sedikit kesempatan bersama dengan anak, tp manfaatkan dg sebaik-baiknya.
Caranya:
- jaga kehangatan, keceriaan, kasih sayang, kelembutan...biarpun sbnarnya dlm kondisi yg lelah...

-berikan pengertian..bhwa sbnarnya..Bpk/ibu sayang..dan ingin selalu bersama anak...tp krn perlu kerja..utk mmenuhi kebutuhan hidup klg....maka terpaksa jarang/tdk bisa lama bersama anak.

3). Jadilah Orangtua Pembeljar. Orgtua hrs berupaya seoptimalnya.. melanjutkan pendidikan dan pembelajaran di lembaga/sekolah.

Apa yg telah diterima anak di sekolah..tdk akan berhasil maksimal jika tdk dilanjutkan oleh orangtuanya di rumah.

Pendidikan secara keseluruhan hrs dipahami ortu. Tiga hal : sikap, pengetahuan dan keterampilan, semua dibutuhkan anak.

Oleh sbb itu, hal yg hrs diperhatikan orgtua:

- seringlah berkonsultasi/berkoordinasi dg guru, ttg anaknya. Bgmn perkembangannya? Apa kendalanya? Apa yg bisa dibantu..? Apa yg hrs dilakukan di rumah..?

- Siapkan Pendidikan anak sejak dini, misal: asuransi pendidikan, sisihkan dana untuk mencukupi kebutuhan anak, jika PAUD: belikan alat permainan, atau sarana bermain...agar kebutuhan anak terpenuhi.

-  Orgtua PAUD hrs paham, dunia anak adlh dunia bermain.
Anak bukan miniatur org dewasa. Beri kesempatan seluas-luasnya utk bermain. Kewajiban orgtua adlh melakukan kepengawasan....

Nah...bapk/ibu sekalian....itu sedikit yg dpt saya sampaikan pd kesempatan ini....
Ada kurang lebihnya mohon maaf...
Pesan terakhir...jadilah orgtua yg hebat...krn anak2 hebat terlahir dr Ortus yg hebat...

Wassalamu'alaikum wr.wb...

********************

Demikian.. rekan2 Penilik...semoga bermanfaat....

PARENTING : SINGLE PARENT

Oleh M Kasim

Pengalaman ketika setiap hari berturut-turut dalam satu minggu, melaksanakan kegiatan parenting, bulan ini, ada hal yang menarik. Pada sesi tanya jawab, ada seorang ibu-ibu bertanya, yang kebetulan beliau adalah pengelola Panti Asuhan Anak Yatim.

Begini dialog yang terjadi:

Ibu Penanya : “ Pak, saya adalah pengelola Panti Asuhan Anak Yatim. Yang saya tanyakan, kenapa hampir semua anak yatim memiliki sikap dan perilaku yang hampir sama. Apakah semua anak yatim memang demikian itu sikap dan perilakunya? Trus bagaimana cara mendidik dan mengasuh yang benar, baik menurut aturan umum atau menurut agama ? (dalam hal ini, agama Islam)."

Saya: (Bla..bla...bla..bla..bla..bllaaaa..dst)
Cttn: ini untuk mempersingkat tulisan.

Ibu Penanya: Terima kasih pak, atas jawabannya. (eh, padahal, saya sebenarnya ndak yakin dengan jawaban yang saya berikan). Begini pak, kapan waktu, jika berkenan, saya akan mengundang bapak untuk menjadi pembicara, pada saat saya mengumpulkan orangtua/keluarga dari anak tersebut... (Gobbrraaaakkkk...!!!).
***********************

Berdasarkan permintaan itulah sedikit ulasan ini saya buat... (persiapan sewaktu-waktu diundang...)

A.Pengertian  Single Parent

Anak yatim/piatu/yatim-piatu, adalah anak yang tidak memiliki orangtua yang lengkap atau tidak memiliki kedua-duanya. Orangtua yang tidak lengkap inilah yang disebut single parent. Single parent, terjadi karena perceraian, meninggal dunia, kehamilan di luar nikah, atau adopsi karena tidak mau menikah.

B. Dampak Single Parent terhadap Perilaku Anak

1. Dampak Negatif

a. Perubahahan Perilaku Anak: sifat nakal, tidak sopan, dan depresi,
b. Perubahan sosial anak: kurang percaya diri dan minder untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar
c. Tersesat figuritas: figur ayah dan ibu harus diperoleh seimbang oleh anak. Jika satu diantaranya tidak ada, maka akan terjadi kesalahan pemahaman figur dari jenis gender yang berbeda. Contoh: anak laki-laki menganggap figur ayah dari ibu, sehingga bersikap lemah gemulai atau kewanita-wanitaan.

2. Dampak Positif

a. Terhindar dari kemungkinan pertengkaran orangtua
b. Anak lebih mandiri : sering mendapat beban tugas rumah tangga lebih awal , karena situasi dan kondisi yang menuntut demikian.
c. Anak berkepribadian kuat; dengan gemblengan permasalahan keluarga dari kecil, menjadikan anak lebih siap menghadapi beban kehidupan pada masa dewasanya.

C. Pola Asuh anak

1. Jenis Pola Asuh

a. Pola Pengasuhan Otoriter (Berkuasa Penuh)

Ciri2nya:
1). Keinginan kuat dlm Pendidikan Anak.. terpusat pd orangtua.
2). Kendali pendidikan anak, sepenuhnya ditangan Orangtua.
3). Mengabaikan pendapat dan perasaan anak.

Dampak/akibat thd anak:
1). Anak menjadi penakut.
2). Anak tidak percaya diri
3) Anak menjadi penentang/ pemberontak.

b. Pola Pengasuhan Permisif (serba membolehkan)

Ciri2nya:
1). Cenderung tanpa memberikan bimbingan/arahan
2) Serba mengijinkan/membolehkan kan
3). Kurang/tdk mengontrol anak

Dampak/akibat thd anak:
1). Anak agresif
2). Anak pemberontak
3). Suka mendominasi ( menang sendiri)
4). Tidak patuh thd aturan
5). Prestasi rendah.

c. Pola Pengasuhan Demokratis ( Keseimbangan)

Ciri2nya:
1). Sikap  menerima dan kontrol/ pertimbangan yg berimbang.
2). Cepat memahami kebutuhan anak.
3). Mendorong anak untuk berpendapat dan bertanya..
4). Selalu menjelaskan dampak perbuatan baik/ buruk.

Hasil profil anak:
1). Anak bersahabat.
2). Anak percaya diri
3). Anak sopan
4) Anak mudah bekerjasama
5). Anak memiliki sikap pengendalian diri
6). Anak memiliki sikap ingin tahu
7). Anak memiliki arah /tujuan hidup
8). Anak memiliki orientasi utk berprestasi.

2. Prinsip-prinsip pola asuh

Banyak prinsip pola asuh, sedangkan menurut agama Islam, sbb:
a. Menanamkan tauhid dan menghindari kemusyrikan
b. Menanamkan rasa wajib memuliakan Allah SWT dan selalu dalam pengawasan-Nya.
c. Menanamkan rasa wajib mengerjakan sholat sebagai sarana berkomunikasi dengan Allhoh SWT.
d. Menanamkan sikap hormat dan taat kepada orangtua, selama tidak bertentangan dengan aqidah.
e. Menanamkan sikap amar makruf dan nahi munkar, serta tabah menghadapi cobaan hidup.
f. Menanamkan sikap hormat kepada sesama, dan tidak sombong.

3. Alat Pola Asuh
a.Keteladanan
b. Anjuran
c. Latihan
d. Pujian
e. Larangan dan Perintah
f. Koreksi dan Pengawasan
g. Hukuman

4. Strategi Pola Asuh Single Parent
a. Orang tua harus berperan ganda
b. Memanfaatkan kualitas waktu
c. Komunikasi antara orangtua dengan anak yang sehat
d. Menerapkan disiplin
e. Hubungan interpersonal (dasar untuk bersosial)
f. Persepsi positif terhadap anak.

Demikian, catatan kecil, yang mungkin dapat bermanfaat, jika pada saat parenting, ada pertanyaan tentang single parent. Semoga bermanfaat.

file://MATERI%20PARENTING/Single%20Parent/Single%20Parent%202.pdf.

http://kumpulanmakalah94.blogspot.co.id/2015/11/makalah-peranan-keluargaorang-tua-dalam.html?m=1

PARENTING: PENGGUNAAN HP OLEH ANAK

Oleh M Kasim

Rekan2 Penilik, kayaknya sdh jd hal biasa banget, anak2 usia pegang gadget (selanjutnya, dibaca HP).. Gak tahu, apa motiv ortu ngasih kesempatan anak usia dini (AUD), kenal HP, dg aplikasi yg canggih. Sekedar aja biar gak nangis, iseng, atau utk gengsi... Runyamnya, ortu gak paham konsekuensi dampak yg ditimbulkan. Oleh sbb itu, topik ini bisa digunakan sbg materi Parenting...

Uraian tetap dengan bentuk " dialog imajiner"
******************

Penilik :
Assalamualaikum wr wb....
Selamat pagi....
Gimana Bpk/Ibu...semuanya..??

Terimakasih...atas kehadirannya dlm kegiatan Parenting ... Hal ini menunjukkan bahwa Bpk/Ibu...benar2.. memiliki keinginan yg kuat utk menjadi ortu/wali yg hebat.. Semua itu akan bermanfaat utk buah hati ..yg kelak kita harapkan menjadi generasi yg hebat...

Bpk/Ibu sekalian.. maaf,..semua membawa HP..??

Ortu/Wali:
(Senyum2)...

Penilik:
Okey...saya yakin. hampir semua Bpk/ibu memiliki... Memang HP ..skarang bukan menjadi barang mewah... dan memang diperlukan utk komunikasi..dsb. Bahkan..utk profesi tertentu,..HP dg aplikasi yg canggih, menjadi kebutuhan utk mendukung dan memperlancar pekerjaan...

Nah...krn HP sdh menjadi barang yg biasa,...maka, banyak ortu memberi kesempatan AUD, mengenalnya. Bahkan..banyak ortu yg merasa bangga..jika anaknya dpt mengoperasikan HP..

Betul Pak/Bu..??
Hayyoo..siapa yg sdh mengenalkan HP atau bahkan mmberikan fasilitas HP kpd anak...??

Ortu/wali:
Saya....!! (sambil acungkan jari)..
Begini lhoo..alasan saya membelikan HP ke anak..., karena di HP banyak game2...yg menurut saya...akan membuat anak kreatif...!!!

Penilik:
Heeemmm....tdk salah ...alasan tsb...
Di era/sekarang..kita tdk bisa menghindarkan diri dr perkembangan teknologi..tmsk akan pengenalan HP bagi AUD...

Namun Bpk/ibu hrs mengerti cara penggunaan, dan dampak dr HP ... sehingga..kita dpt memperoleh manfaat HP dan menghindari sisi negatifnya...

Okey...Bpk/ibu mari kita pahami bersama ttg HP...

HP....memiliki kelebihan dr alat komunikasi yg lain..yaitu sifat "kebaharuan"... Artinya selalu berkembang setiap saat ..selalu menawarkan kelebihan2.. aplikasi atau program..

Hal inilah..yg menjadikan HP mampu menarik perhatian semua manusia tanpa mengenal usia...dari orgtua..hingga anak2..

HP..sangat berpengaruh thd semua orang, tidak terkecuali anak. Dua hal yg menjadikan berpengaruh adalah: HP selalu berkembang dan dpt mmbuat ketergantungan/ kecanduan.

Jika demikian,..apakah Bpk/ibu..trus melarang anak2 mengenal HP...?

Ortu/Wali :
(mmmmmmm...., ragu2..)

Penilik:
Nah..sbg orgtua hrs bijak menyikapi penggunaan HP..oleh anak. Syaratnya hrs mengetahui dampak/akibat penggunaan HP, .baik positif/ baik..maupun dampak negatif/buruknya...

Dampak positif/baik:

1). Menambah pengetahuan.
Untuk AUD,..HP dpt menambah pengetahuan..krn dpt menampilkan berbagai jenis benda, makhluk hidup ( hewan/tumbuhan)..yg bergerak atau tdk bergerak...yg sulit ditemui secara langsung...

2). Menambah jaringan persahabatan.
Manfaat ini blm berpengaruh thd AUD,..tp mungkin anak usia di atas AUD...baru berfungsi.

3). Mempermudah komunikasi.
HP..dpt digunakan utk berkomunikasi dg klg, terutama jika terhalang jarak. Apalagi..ada aplikasi video call...
Org bisa berkomunikasi seolah-olah tanpa jarak,..walau dari jauh.

4). Menumbuhkan kreativitas anak.
Perkembangan program/fitur HP..sangat pesat. Banyak game2..yg melatih kecepatan, ketepatan dan keterampilan.. Hal ini yg dpt menumbuhkan kreativitas anak.

Kemudian apa dampak negatifnya..?

1). Mengganggu kesehatan.
HP mengeluarkan cahaya dan panas...ini yg menimbulkan radiasi.. Radiasi tsb berbahaya utk anak di bawah usia 12 th., krn menyebabkan kanker.

2). Menyebabkan perilaku negatif:
- tidak sabar
- tdk tahan kesulitan
- cepat puas/ berpikir dangkal
- anti sosial

Bpk/ibu sekalian..
Namun demikian..kita tdk perlu bersikap ekstrim... kemudian..melarang samasekali...
Kita bisa bersikap bijak tanpa hrs mengorbankan perkembangan anak...

Nah berikut cara penggunaan HP..yg dpt dijadikan panduan:...

1). Pilih HP yg sesuai usia anak.
AUD..sebaiknya..pilihkan HP yg cukup utk mengenalkan warna, bentuk dan suara...Jng pilih HP yg memiliki  fitur/program yg berlebihan. Ingat HP utk anak hanya sebatas sbg fungsi edukasi/ Pendidikan.

2). Batasi waktu penggunaan HP.
Durasi atau lama penggunaan HP utk AUD,  misal hanya 0,5 jam..dan hanya waktu senggang, hr Minggu/ libur sekolah....

3). Hindari Anak Kecanduan.
Kecanduan akan terjadi krn kurang kontrol dr orgtua.

Nah..Bpk/Ibu sekalian.... demikian penjelasan ttg seputar penggunaan HP bg anak...terutama anak PAUD...Kita hrs bersikap bijak. Utk itu, perlu dipahami kebaikan dan keburukannya...
Yg lebih penting tahu cara penggunaannya utk menghindari dampak buruknya...

Terimakasih...
Wassalamu'alaikum wr wb...

*****************
Demikian rekan2 Penilik...semoga ada manfaatnya...

Cttn:
Disadur dari:

http://fuadefendi3.blogspot.co.id/2014/01/pengaruh-gadget-terhadap-perkembangan.html?m=1

PARENTING: CALISTUNG DI PAUD

Oleh M.Kasim

Pada awal berkembangnya PAUD nonformal, sdh muncul bbrp pertanyaan dr pihak terkait,  khususnya kalangan pemerhati pendidikan, yg bernada menyangsikan..keberhasilan PAUD non formal....
Sudah barang tentu, Penilik.(termasuk daya) langsung pasang badan ..ah..siapa bilang...

Sebagai upsya untuk langkah prefentif .maka  saya menganalisa permasalahan TK..karena..TK termasuk jenis layanan PAUD..yg lebih awal berjalan. Analisa dilakukan.baik yg terkait pembelajarannya.maupun dampak sosialnya ( bgmnkah tingkat harapan ortu thd output TK).

Bbrp permaslahan yg teridentifikasi :

1). Terjadi kesalahan  metode pembeljaran di TK,yaitu penekanan calistung.dg mengabaikan tingkat kesiapan / perkembangan  anak.

2). Tingkat harapan otangtua..yg melebihi  batas  kewenangan pendidikan TK,..Sbgmn diamanatkan dlm UU No. 20/Thn 2003 ttg SISDIKNAS,..bhwa PAUD berfungsi mmbina tukem (tumbuh kembang) anak..agar siap mengikuti pendidikn jenjang selanjutnya..
Konskuensinya, terkait calistung, konsep pembelajaran  AUD..adlah anak dikenalkan..bukan belajar...
Oleh sbb itu, metode yg digunakan adlh bermain seraya belajar...

3). Terjadi kegamangan lembaga TK..terhadap Tingkat Harapan ortu atau disebut Guru TK dlm posisi  DILEMATIS..Harapan ortu, bahwa anak harus pandai calistung, lebih cepat menguasainya..akan srmakin bangga ortu tsb.
Jika tdk demikian, maka ortu akan meninggalkan lembaga tersebut, krn dianggap sbg  lbg tdk bermutu.

Sebaliknya, jika melaksanakan, apa yg menjadi tuntutan ortu, jelas..ini sebuah pelanggaran.dlm pendidikan..Secara psikologis..anak dlm posisi mengalami "kekerasan"..

Berdasarkan hasil analisa tersebut, maka langkah2 yg.bisa  dilakukan penilik :

1). Membekali guru PAUD (KB, TPA, SPS)..dg konsep2 dasar PAUD yg benar.

2). Memprogramkan parenting,  setiap awal tahun ajaran..ke setiap lbg. Penilik langsung berhadapan ortu utk memberikan pemahaman konsep PAUD yg benar.

3). Mengupayakan kegiatan seminar/workshop/sosialisasi kpd seluruh pihak terkait dg menghadirkan,:
- IGTKI, HIMPAUDI
- GOPTKI
- Pengawas TK, Penilik.
- Guru PAUD ( TPA, KB, SPS, TK)
- Guru kelas 1 SD
- Orangtu / Masyarakat (PAUD, SD).

Adapun tujuan kegiatan trsbt:
1).Menyamakan persepsi antara orangtus/ masyarakat, dan
pendidik PAUD  tentang konsep pembelajaran PAUD yg benar..
2). Menyamakan persepsi..antara pendidik PAUD dg SD.(guru kls 1).ttg fungsi masing lbg dlm mengenalkan calistung atau belajar calistung. Akhirnya tdk terjadi..pengalihan tggjawab bahwa yg memiliki tugas mengajar calistung adalah Guru SD (kls 1). Konsekunsinya, tdk ada test calistung  utk masuk SD.

Demikian..smoga bermanfaat..

PARENTING PERLU, MENGAPA?

Oleh M. Kasim

Pendidikan merupakan tanggung jawab 3 pihak..yg. menurut Ki Hajar Dewantara disebut Tri Sentra Pendidikan, atau ada yg mengatakan Trilogi Pendidikan. Tiga pihak yg dimaksud : orangtua, sekolah dan masyarakat.
Tiga pihak tersebut harus saling mendukung agar pendidikan mencapai tujuan yg diharapkan.

Penelitian terakhir, memaparkan bahwa  jika dipersentase, seberapa besar pengaruh antara ketiganya thd pendidikan anak adalh:  orangtua 60%, sekolah 20% dan masyarakat 20%. Terlihat bahwa peran orangtua mmegang peran yg penting dlm pendidikan anak.

Bagaimana sikap semua pihak atas fakta demikian? Sebaiknya harus ada kata sepakat bhwa perlu upaya serius untuk meningkatkan peran ortu dlm pendidikan anaknya. Orangtua tidak da pat menyerahkan sepenuhnya dg begitu saja kpd kembaga pendidikan. Hal ini, perlu diantisipasi..krn mulai ada gejala di lbg pendidikan yg elite ( identik dg mahal, biasanya menerapkan full day school, bilingual, dsb), orangtua berkurang keterlibatannya thd pendidikan  anaknya. Sungguh berbahaya.

Peran orangtua thd pendidikan anaknya hars mendapatkan penguatan. Pemerintah..saat ini sebenarnya lbh nenunjukkan komitmennya utk hal itu. Terbukti dg  dibentuknya Direktorat Pemb. Pendidikan Keluarga. Tujuan nya mmfasilitasi program peningkatan peran fungsi keluarga dlm pendidikan anak. Jika keluarga tdk mampu memanfaatkan 60% keterpengaruhan thd pendidikan anak, maka akan direbut oleh pihak lain. Yang tdk diinginkan adlah pihak tersebut dr unsur yg berdampak negatif bagi anak.

Berkaitan dg hal itu, Sukiman (2016), mennyebutkan secara rinci, bhwa pelibatan ortu thd pendidikan anak :

1). Meningkatkan kehadiran anak
2).Mengurangi perilaku destruktif
3). Sikap dan perilaku anak lbh positif
4).Meningkatkan bljar dan prestasi  anak
5).meningkatkan keinginan melanjutkan sekolah
6)Meningkatkan komunikasi ortu-anak
7).Meningkatkan harapan rasa turut berhadil ortu
8)Meningktkan rasa percaya diri ortu
9)Meningkatkan kecenderungan ortu melanjutkan sekolah
10).Meningkatkan kepuasan ortu.thd srkolah
11). Meningkatkan moral guru
12) mendukung iklim  positif dan kemajuan sekolah.

Keluarga adlah pendidikk yg pertama dan utama. Di sinilah anak kali pertama menerima dasar2 pertumbuhan dan perkembangan anak. Namun demikian, tdk semua ortu dpt memerankan fungsinya secara optimal. Hal ini dpt dipahami, krn tdk semua ortu mmiliki pengetahuan dan keterampilan ttg penddikan. Bahkan ada org tua yg melakukan tugasnya, berdasarkan warisan sejarah atau turun temurun.
Mengapa hal tresbut ter jadi, ? Menurut Jailani (2014), penyebbnya:
1). Kurangnya pengetahuan dan pemahaman ortu.
2).Lemahnys peran sosial budaya masyarakat dlm mmbangun kesadaran akan pentingnya parenting.
3). Kesibukan ortu dlm mmenuhi tuntutan kebutuhan  ekonomi keluarga
4). Kemajuan.IPTEK mmpengaruhi pola pikir dan cara tindak ortu.

Demikian..semoga bermanfaat, bagi penilik untuk menyikapi permaslhan parenting..

EKSISTENSI PENILIK: JABFUNG KEPENGAWASAN, DITARIK KE PUSAT ?

Oleh M. Kasim

Biasa aja tuuhh....?!
Pro-kontra, pastilah..

Jika dirunut ke belakang, maka ini adalah wujud kekecewaan pemerintah pusat, atas sebagian dampak pelimpahan wewenang Pendidikan ke daerah. Ternyata harus dipikirkan ulang, bahwa tdk semua komponen, menunjukkan hasil yg diharapkan, khususnya bidang kepengawasan..

A. Peran dan Fungsi Kepengawasan.

Konsep kepengawasan secara eksplisit tercantum dlm PP 19/2005, pasal 39 dan 40, yg diduduki oleh pengawas dan penilik. Kepengawasan memiliki peran fungsi sbg penjamin dan pengendali mutu pendidikan. Lembaga pendidikan diharapkan mencapai standar Nasional pendidikan. Pengawas dan Penilik adlh Jabfung melakukan pembinaan dan Pembimbingan kpd lembaga.

Pada era Otoda (otonomi daerah) sekarang, terbukti menunjukkan, bahwa kepengawasan tdk terlepas dari kontaminasi, "nakalnya politik" di daerah. Oleh sebab itu, keberadaan pengawas dan penilik bergantung kpd cerdas/tidaknya, kepedulian/tidaknya para pejabat thd  pentingnya peran dan fungsi kepengawasan

Peran dan fungsi jabfung kepengawasan, sbgmn dipaparkan di atas, sangat vital dan strategis. Mutu pendidikan, terakhir bergantung kpd tangan dingin jabfung kepengawasan.
Oleh sebab itu sebagai penjamin mutu ( juga pengendali mutu), maka tidak logis, jika jabfung kepengawasan, memiliki heterogenitas, baik kompetensi dan penghargaannya.

B.Kepengawasan Praotoda.

Sebelum otoda, seluruh sistem kepegawaian Kepengawasan, di bawah kendali pemerintah pusat. Sistem rekrutmen, pembinaan, Penilaian Kinerja, dan penghargaan, dikelola dlm sistem manajemen terpusat.

Konsep hirarkis Kemendikbud tersedia hingga di tingkat kecamatan (Dikbudcam)... merupakan bentuk edial agar kepengawasan berjalan efektif.

Beberapa keuntungan dari sistem tersebut, :

- terjaminnya kualitas SDM jabfung kepengawasan.

-  terjaminnya program kepengawasan, dari pusat hingga ke ujung eksekusi.

- Lebih membuka peluang pemerataan kualitas fungsi kepengawasan.

C. Kepengawasan Era Otoda

Seiring dilimpahkan nya Pendidikan, ke Pemkab/Pemkot, mengandung konsekuensi terhadap jabfung kepengawasan. Selain faktor kebijakan pejabat g variatif, maka perbedaan perlakuan juga dipengaruhi oleh daya tawar dari organisasi profesi, dan kemampuan APBD masing2.

Maka, yg terjadi adlah bervariasinya wujud jabfung kepengawasan di Pemkab/Pemkot. Pengawas, secara umum tdk memiliki perbedaan antar wilayah, krn mendapat perlakuan yg sama secara nasional.

Hal ini berbeda dg penilik. Sistem kepegawaian penilik, yg walaupun sdh memiliki dasar aturan, namun faktanya, implementasi di daerah berbeda-beda. Beberapa faktor yg terkait dg sistem kepegawaian dan  menjadikan penilik bervariasi adalah:

1.   Sistem Rekrutmen

Permenpan RB no 14/2010 dan Permendikbud No. 38/2013, ternyata tetap memiliki celah utk dibiaskan oleh pejabat daerah. Daerah tertentu memang memiliki komitmen atas terjaganya regulasi tsb, namun daerah lain banyak yg mengabaikan.

2. Sistem Pembinaan

Siapakah yg memahami sistem pembinaan kompetensi penilik? Jujur, jawaban yg tepat adalah penilik itu sendiri. Penilik lah yg memahami kebutuhan kompetensi  yg diharapkan utk dikuasainya.

Apakah pejabat di daerah dapat melaksanakan fungsi pembinaan..? Sangat tdk mungkin diharapkan, kecuali jika pejabat tsb berasal dr penilik.

Selain itu, longgarnya proses mutasi dan promosi pejabat daerah, sbg dampak tidak terkontrolnya pengangkatan pejabat. Hal ini mengabaikan prinsip" right man on the right place "
Jarang pejabat yg menguasai kepenilikan.

3. Sistem Penilaian Kinerja

Konsekuensi dari tidak berjalannya fungsi pembinaan, maka berdampak kpd tidak terwujudnya sistem penilaian kinerja penilik. Logikanya, pembinaan adlah upaya untuk mengarahkan penilik agar memiliki kompetensi dan kinerja yg baik, sehingga jika pembinaan tdk berjalan efektif, maka mustahil Penilaian Kinerja Penilik terwujud.

4. Sistem Harlindung (Penghargaan dan Perlindungan).

Identitas yg melekat pada penilik, sbg jabfung tenaga kependidikan yg tdk memperoleh sertifikasi, maka yg terjadi, di daerah satu berhasil berjuang utk memperoleh TKD(Tunj. Kinerja Daerah/sebutan yg lain), dg varian yg berbeda-beda. Sementara di daerah yg lain blm mendapatkannya. Hal ini tentunya kurang kondusif sbg faktor pendukung utk mewujudkan penilik yg memiliki mobilitas kerja yg sama.

D. Posisi Ideal Kepengawasan.

Bisa disepakati bahwa, penjamin dan pengendali mutu, hrs terstandar secara nasional. Bagaimana mungkin proses pencapaian standar Nasional berhasil, jika penjamin dan pengendali mutunya tdk terstandar, krn memiliki heterogenitas?

Maka, perlu keberanian pemerintah pusat utk mengambil sikap tegas, membentuk konsep    bgmn menyetarakan kompetensi Jabfung Kepengawasan. Pemerintah pusat harus mengambil alih kembali dari sebagian pelimpahan pendidikan ke Pemkab/Pemkot, khususnya Jabfung kepengawasan.
Artinya, pengawas dan penilik, harus ditarik menjadi PNS Pusat.

Langkah, bukan tidak mengandung konsekuensi yg ringan. Beberapa hal yg perlu dipertimbangkan, antara lain:

1. Sistem satminkal (satuan administrasi pangkal) Kepengawasan

Dalam Permenpan RB, no 14 dan 21 Th 2010, ditegaskan, bhwa pengawas dan penilik berkedudukan di Dinas Kabupaten/kota. Oleh sebab itu, jika Jabfung keduanya ditarik menjadi PNS Pusat, perlu dipikirkan fasilitas satminkalnya.

Apakah BPPAUDDIKMAS mampu menjadi satminkal keduanya? Padahal tdk semua provinsi memiliki BPPAUDDIKMAS.

2. Halo effect, kebijakan.

Fakta bahwa terdapat keberagaman penilik tdk terbantah. Oleh sbb itu, sangat dimungkinkan terjadi perbedaan tanggapan dan pandangan diantara penilik, atas wacana penilik ditarik menjadi PNS Pusat.

Harus diakui, permasalahan berkisar kepada : kesejahteraan. Penilik yg telah memperoleh kesejahteraan dan penghargaan dari pemkab/ Pemkot, adlh wajar jika tidak berkenan atas rencana tsb. Sebaliknya, penilik yg belum memperoleh sebgaimana teman yg lain,tentunya dengan antusias mendukungnya.

Yang perlu dipahami, baik mereka yg kontra maupun pro, adlh hrs berpikir jernih. Semua pihak harus melepaskan ego masing2. Kepentingan yg lebih besar dan berskala nasional harus dikedepankan. Jangan sebatas, penilai and kulit atau permukaannya saja. Halo effect, hrs dihindari...

Demikian, semoga ulasan ringkas ini..dpt memberikan sedikit   wawasan kepada semua pihak..atas isu : pengawas dan penilik, ditarik menjadi PNS Pusat.

IKM PAUD: ALUR TUJUAN PEMBELAJARAN (ATP) PAUD SERUPA SILABUS

  Oleh M. Kasim Menyambung artikel sebelumnya, mencermati konsep dan bentuk fisik ATP. Terus terang, artikel ini memungkinkan memantik dis...